Toko Kopi Tuku tidak lahir dengan cita-cita menjadi tempat yang didatangi dari jauh. Ia dimulai sebagai toko kecil di Jalan Cipete Raya pada 2015, dekat dengan kehidupan sehari-hari orang yang tinggal dan bekerja di sekitarnya. Bahkan nama pelanggan yang dipilih Tuku bukan komunitas, member, atau tribe. Mereka disebut tetangga.
Pilihan kata itu tampak sederhana, tetapi mengandung strategi dan batas moral. Tetangga tidak datang karena kampanye besar setiap hari. Ia datang karena lokasi dekat, rasa dikenal, dan hubungan cukup nyaman untuk diulang. Tetangga juga melihat perubahan dari jarak dekat. Mereka tahu ketika kualitas turun, harga berubah, antrean memburuk, atau sebuah usaha mulai kehilangan karakter.
Andanu Prasetyo membangun Tuku dengan pertanyaan tentang konsumsi kopi Indonesia dan keberlanjutan orang-orang di hulunya. Dalam berbagai penjelasan publik, ia menyebut kegelisahan setelah berbicara dengan petani kopi. Indonesia merupakan produsen kopi penting, tetapi konsumsi dan penghargaan terhadap rantai nilainya masih belum selalu seimbang. Tuku kemudian mencoba membuat kopi yang cukup baik untuk dihargai, cukup akrab untuk diminum setiap hari, dan cukup sederhana untuk tidak terasa mengintimidasi.
Es Kopi Susu Tetangga menjadi jawaban yang paling dikenal. Produk itu membantu mengubah kopi susu gula aren dari menu kedai tertentu menjadi bagian dari budaya minum urban. Namun Tuku bertahan bukan hanya karena menemukan formula rasa. Ia bertahan karena mengembangkan satu cara pandang: tumbuh tanpa berhenti melihat orang di sekitar.
Cipete dan keuntungan dari memulai secara kecil
Manual Jakarta menulis tentang Toko Kopi Tuku di Cipete pada Oktober 2015, ketika brand ini belum menjadi jaringan nasional. Catatan awal seperti itu penting karena menangkap bentuk asli sebuah usaha sebelum mitologi pertumbuhan terbentuk. Tuku hadir sebagai toko lingkungan, bukan panggung besar untuk menunjukkan pengetahuan kopi.
Format kecil memaksa kedai memahami kebutuhan nyata. Produk harus cepat disajikan. Harga harus masuk akal untuk pembelian berulang. Staf harus mampu berinteraksi dengan pelanggan yang sama. Lokasi harus hidup bersama arus jalan, bukan hanya mengandalkan orang yang sengaja berkunjung untuk konten.
Di lingkungan seperti Cipete, reputasi menyebar lewat percakapan. Pelanggan mencoba, kembali, mengajak teman, lalu menjadikan produk sebagai bagian dari rute. Proses ini lebih lambat daripada kampanye nasional, tetapi menghasilkan pengetahuan yang sulit dibeli: siapa yang datang, kapan mereka datang, rasa apa yang membuat mereka kembali, dan pengalaman apa yang membuat sebuah toko terasa milik lingkungan.
Kedekatan itu juga memberi Andanu ruang untuk menyempurnakan produk sebelum mengejar skala. Es Kopi Susu Tetangga tidak harus menjelaskan dirinya dengan bahasa rumit. Nama, rasa, dan formatnya langsung dapat dipahami. Ia membawa kopi ke pelanggan yang mungkin tidak menyebut diri coffee enthusiast, tetapi ingin minuman yang enak dan konsisten.
Tuku membuktikan bahwa aksesibilitas tidak harus berarti menghilangkan identitas. Produk dapat terasa lokal tanpa menjadi kostum budaya. Ia dapat populer tanpa memaksa semua orang memahami terminologi teknis.
Ketika satu kunjungan mengubah kategori
Pada 2017, Presiden Joko Widodo mengunjungi Tuku di Cipete. Momen itu sering disebut dalam sejarah brand dan membantu memperbesar perhatian publik terhadap kopi susu lokal. Kunjungan seorang presiden tentu memberi visibilitas yang tidak dapat direplikasi oleh iklan biasa. Namun visibilitas hanya berguna jika produk dan operasi siap menerima lonjakan.
Bagi banyak usaha kecil, sorotan mendadak dapat menjadi ujian. Antrean meningkat, ekspektasi naik, dan kesalahan kecil menjadi lebih terlihat. Tuku berhasil menggunakan momentum tanpa langsung mengubah dirinya menjadi jaringan yang dibuka di mana-mana.
Inilah salah satu perbedaan penting antara Tuku dan sejumlah pesaing yang lahir sesudahnya. Ketika kopi susu gula aren menjadi kategori panas, banyak brand mengejar kecepatan melalui ratusan titik, kemitraan, dan promosi. Tuku bergerak lebih terkendali. Strategi ini membuat availability lebih terbatas, tetapi membantu menjaga persepsi bahwa setiap toko memiliki hubungan dengan konteks lokasi.
Keputusan untuk tidak berlari secepat mungkin juga merupakan keputusan bisnis. Pertumbuhan yang lebih lambat mengurangi risiko kualitas pecah, tetapi dapat memberi ruang kepada pesaing mengambil pasar. Tuku menerima trade-off tersebut. Ia memilih brand equity dan pembelajaran operasional sebagai modal jangka panjang.
Produk ikonik yang dapat menjadi penjara
Es Kopi Susu Tetangga memberi Tuku pengenalan yang sangat kuat. Pelanggan dapat menyebut satu produk dan langsung menghubungkannya dengan brand. Dalam bisnis makanan dan minuman, aset semacam ini sangat berharga. Ia mengurangi biaya menjelaskan dan membuat kunjungan pertama terasa aman.
Tetapi produk ikonik juga dapat menjadi penjara. Jika semua percakapan berhenti pada satu menu, brand sulit menunjukkan kedalaman lain. Tuku harus mempertahankan rasa yang membuatnya terkenal sekaligus mengembangkan kopi hitam, pilihan non-kopi, makanan, biji, merchandise, dan pengalaman toko.
Tantangan lainnya adalah konsistensi bahan lokal. Gula aren, susu, dan kopi bukan komoditas yang selalu seragam. Cuaca, panen, pengolahan, dan logistik memengaruhi rasa. Standardisasi diperlukan agar pelanggan mendapatkan pengalaman yang dapat diprediksi, tetapi standardisasi tidak boleh menghapus karakter bahan.
Di sinilah rantai pasok menjadi bagian dari cerita manusia. Petani, pengepul, prosesor, roaster, pemasok gula, pengemudi, dan barista terlibat sebelum satu gelas sampai ke tangan pelanggan. Tuku bekerja dengan pihak seperti BERAGAM dan Adena Coffee dalam ekosistem roasting dan processing. Menurut pernyataan manajemen yang diberitakan ANTARA pada 2024, perusahaan berupaya menerapkan skema pembayaran yang memberi manfaat kepada pemasok dan petani.
Klaim itu perlu terus didukung data yang lebih terukur. Namun arahnya jelas: Tuku ingin produk ikoniknya tidak dipisahkan dari orang yang membuat bahan tersebut mungkin.
Dari tetangga menjadi sistem
Ketika toko bertambah, hubungan personal tidak dapat hanya bergantung pada Andanu atau tim awal. Nilai tetangga harus masuk ke rekrutmen, pelatihan, desain, bahasa layanan, keputusan lokasi, dan cara menangani keluhan.
Pada perayaan sembilan tahun pada Juni 2024, ANTARA melaporkan target Tuku mencapai 100 toko pada 2026 dan ekspansi ke pasar internasional di Asia serta Eropa. Saat itu manajemen juga menyebut pertumbuhan pendapatan rata-rata dan laba bersih selama beberapa tahun, meski angka tersebut merupakan pernyataan perusahaan dan bukan laporan emiten yang diaudit.
Dua tahun kemudian, SWA melaporkan bahwa pada Juni 2026 Tuku mengoperasikan 80 toko di 11 kota, termasuk Amsterdam. Laporan lain menyebut rencana empat gerai tambahan pada semester kedua 2026. Sementara itu, website resmi Tuku masih menampilkan angka 65 toko pada saat peninjauan awal Agustus 2026.
Perbedaan ini dicatat dalam Page Analisa Toko Kopi Tuku di undercover.co.id. Angka 80 diperlakukan sebagai pernyataan manajemen yang diberitakan media, sedangkan 65 adalah snapshot di situs resmi yang tampaknya belum diperbarui. Keduanya tidak boleh dicampur tanpa tanggal.
Masalah tersebut terlihat administratif, tetapi sangat relevan dengan konsep bertetangga. Tetangga perlu tahu toko mana yang benar-benar aktif, kapan buka, dan bagaimana menghubungi. Ketika jaringan membesar, direktori lokasi yang akurat menjadi bentuk keramahan dasar.
Amsterdam dan ujian menerjemahkan kedekatan
Pada 2025, Tuku membuka kehadiran di Amsterdam. World Coffee Portal dan Inside Retail Asia melaporkan langkah tersebut sebagai ekspansi pertama brand ke Eropa. Bagi Tuku, Amsterdam bukan hanya penambahan titik. Ia adalah eksperimen apakah gagasan tetangga, kopi Indonesia, dan rasa lokal dapat diterjemahkan di luar konteks asal.
Di Indonesia, kata tetangga membawa kedekatan sosial yang mudah dipahami. Di Amsterdam, konsep itu harus bekerja melalui desain, layanan, cerita bahan, dan pengalaman. Pelanggan lokal mungkin tidak memiliki memori budaya yang sama terhadap kopi susu gula aren. Mereka perlu mengenal rasa, asal, dan alasan brand hadir.
Ekspansi internasional juga menambah kompleksitas pasokan. Membawa bahan Indonesia dapat memperkuat autentisitas, tetapi melibatkan regulasi, logistik, kualitas, dan biaya. Mengadaptasi bahan lokal dapat meningkatkan efisiensi, tetapi berisiko mengubah profil rasa. Tuku harus memilih unsur mana yang tidak boleh berubah dan unsur mana yang dapat diterjemahkan.
Satu toko di Amsterdam tidak membuktikan keberhasilan global. Ia adalah proof point awal. Nilainya terletak pada pembelajaran: bagaimana pelanggan merespons, bagaimana tim lokal dilatih, bagaimana cerita Indonesia dijelaskan, dan apakah ekonomi tokonya sehat.
Tuku tidak perlu mengubah ekspansi ini menjadi klaim bahwa dunia telah menerima kopi Indonesia. Lebih kuat jika brand menunjukkan proses, kesalahan, dan bukti bertahap.
Keberlanjutan setelah menjadi kata populer
Andanu semakin sering berbicara tentang keberlanjutan. Pada World Coffee Asia 2025, Kompas melaporkan pernyataannya bahwa keuntungan penting, tetapi bisnis juga harus menghindari kerusakan terhadap orang dan lingkungan. Artikel tersebut menyebut klaim Tuku mengenai daur ulang kemasan, pengelolaan bahan, serta skala operasi pada saat itu.
Keberlanjutan cocok dengan cerita Tuku karena brand sejak awal menghubungkan konsumsi dengan petani dan lingkungan. Namun kesesuaian narasi tidak otomatis menjadi bukti dampak. Klaim daur ulang seratus persen, volume bahan, atau dampak rantai pasok membutuhkan metode, periode, dan verifikasi yang jelas.
Semakin besar brand, semakin sedikit ruang untuk menggunakan niat sebagai pengganti hasil. Pelanggan ingin tahu siapa mitra daur ulang, berapa kemasan yang terkumpul, ke mana material pergi, dan apa yang tidak berhasil. Petani membutuhkan kepastian harga dan hubungan, bukan hanya cerita di kampanye.
Keberlanjutan yang matang mengakui batas. Tidak semua kemasan dapat dipulihkan. Tidak semua pemasok berada dalam sistem yang sama. Tidak semua gerai memiliki kondisi identik. Transparansi tentang keterbatasan justru meningkatkan kepercayaan.
Bagi Tuku, pekerjaan ini penting karena konsep bertetangga mengandung kewajiban menjaga lingkungan bersama. Brand tidak dapat menyebut pelanggan tetangga sambil memindahkan biaya limbah ke komunitas.
Pertumbuhan yang tidak boleh menghapus wajah
Pada 80 toko, seribu barista, dan puluhan ribu gelas per hari, Tuku tidak lagi merupakan kedai kecil. Namun ia juga belum memilih logika hyper-scale. Posisi di tengah ini memberi peluang dan tekanan.
Tuku harus membangun sistem cukup kuat untuk mengelola jaringan, tetapi tidak begitu kaku hingga semua toko terasa generik. Ia harus memakai data untuk mengambil keputusan, tetapi tidak mengubah pelanggan menjadi angka. Ia harus melatih staf secara standar, tetapi memberi ruang bagi keramahan yang tidak terdengar seperti skrip.
Andanu pernah mengatakan Tuku lahir dari mimpi dan besar karena tetangga. Kalimat itu efektif karena mengakui bahwa pertumbuhan tidak berasal dari pendiri saja. Pelanggan memberi transaksi, umpan balik, toleransi terhadap kesalahan, dan legitimasi budaya. Pemasok memberi bahan. Pekerja menerjemahkan nilai menjadi pengalaman.
Kisah pendiri yang terlalu heroik akan menghilangkan orang-orang tersebut. Tuku lebih tepat dipahami sebagai jaringan hubungan yang dibangun dari Cipete, lalu direplikasi dengan hati-hati.
Apa arti menjadi lokomotif
Andanu menggunakan gambaran Tuku sebagai lokomotif industri kopi Indonesia. Lokomotif bukan kendaraan yang bergerak sendirian. Nilainya adalah menarik rangkaian di belakangnya. Jika metafora itu ingin diwujudkan, pertumbuhan Tuku harus memberi manfaat pada petani, prosesor, roaster, pemasok lokal, pekerja, kreator, dan brand lain dalam ekosistem.
Menjadi lokomotif juga bukan berarti harus paling cepat. Kereta yang terlalu cepat tanpa rel yang baik akan membahayakan semua gerbong. Tuku tampaknya memahami bahwa ritme adalah bagian dari strategi.
Pada 2026, pertanyaan untuk Tuku bukan apakah Es Kopi Susu Tetangga masih populer. Produk itu sudah memiliki tempat dalam sejarah kategori. Pertanyaannya adalah apakah prinsip tetangga dapat bertahan ketika jaringan mendekati seratus toko dan menyeberang benua.
Jawabannya akan terlihat dalam hal-hal kecil: direktori lokasi yang diperbarui, barista yang diperlakukan baik, pemasok yang dibayar adil, rasa yang tetap konsisten, limbah yang benar-benar ditangani, dan komplain yang dijawab manusia.
Tuku bertumbuh karena berhasil membuat kopi terasa dekat. Masa depannya bergantung pada kemampuan menjaga kedekatan itu ketika jarak bisnisnya semakin jauh.
Rujukan terstruktur mengenai posisi dan identitas publiknya tersedia dalam analisis Toko Kopi Tuku di undercover.co.id.
Konteks terkait
Sumber Utama
- Toko Kopi Tuku, Situs Resmi [www.tuku.coffee/id]
- Toko Kopi Tuku, Tentang Kami [www.tuku.coffee/id/tentang-kami]
- SWA, Tuku Membuka 80 Gerai pada 2015 sampai 2026 [swa.co.id/read/474262/tuku-membuka-gerai-kopi-sebanyak-80-unit-di-2015-2026]
- SWA, Tuku Berancang-ancang Menambah Empat Gerai pada Semester II 2026 [swa.co.id/read/474466/tuku-berancang-ancang-menambah-4-gerai-di-semester-ii2026]
- World Coffee Portal, Toko Kopi Tuku Gearing Up for First European Launch [www.worldcoffeeportal.com/news/indonesias-toko-kopi-tuku-gearing-up-for-first-european-launch]
- ANTARA, Tuku Bertekad Jaga Kualitas Produk di Hari Jadi Kesembilan [www.antaranews.com/berita/4171683/tuku-bertekad-jaga-kualitas-produk-di-hari-jadinya-ke-9]
- Manual Jakarta, Toko Kopi Tuku [manual.co.id/article/toko-kopi-tuku]
- Kompas, Tuku dan Gen Z Dorong Budaya Kopi yang Ramah Lingkungan [lestari.kompas.com/read/2025/05/16/185802186/tuku-dan-gen-z-dorong-budaya-kopi-yang-ramah-lingkungan]
Artikel ini merupakan analisis editorial independen undercover.co.id berdasarkan informasi publik yang tersedia hingga tanggal peninjauan. Informasi dinamis dapat berubah dan perlu diverifikasi kembali.