Fore Coffee dan Keputusan untuk Mengecil Sebelum Tumbuh Lagi

Ditinjau: 6 Agustus 2026. Kategori: Kopi, Teh & Minuman.

Ada cerita bisnis yang mudah dijual karena bergerak lurus. Satu toko menjadi sepuluh, sepuluh menjadi seratus, lalu pendiri berdiri di panggung dan menjelaskan bahwa semua terjadi berkat visi. Perjalanan Fore Coffee tidak sesederhana itu. Bagian terpenting dari kisahnya justru muncul ketika pertumbuhan berhenti menjadi kebanggaan dan berubah menjadi beban yang harus dipangkas.

Fore lahir pada 2018 dari sebuah gagasan yang mempertemukan modal ventura, pengalaman di ekosistem kopi, teknologi, dan keyakinan bahwa kopi berkualitas bisa dibuat lebih mudah dijangkau. Toko pertama dibuka di Senopati, Jakarta Selatan, bersamaan dengan aplikasi yang membantu pelanggan memesan dan membangun kebiasaan transaksi digital. Nama Fore diambil dari kata forest, sebuah harapan agar bisnis tumbuh kuat dan memberi kehidupan pada lingkungan di sekitarnya.

Harapan itu cepat menemukan bentuk. Jaringan gerai melebar ke luar Jakarta. Pada 2019, Fore sudah mencapai 118 gerai. Dari luar, angka itu tampak seperti validasi bahwa model app-first dan premium affordable bekerja. Namun industri makanan dan minuman selalu menyimpan kenyataan yang tidak terlihat di foto pembukaan gerai. Setiap titik membawa sewa, tenaga kerja, bahan baku, pelatihan, pengawasan, dan tuntutan konsistensi. Pertumbuhan yang terlalu cepat dapat membuat organisasi sibuk membuka pintu baru sebelum memahami apakah pintu lama menghasilkan arus kas yang sehat.

Ketika pandemi datang pada 2020, semua kelemahan itu tidak lagi bisa disembunyikan.

Saat angka besar tidak lagi berarti aman

East Ventures, salah satu pihak yang terlibat sejak awal, menulis bahwa Fore sempat menutup lebih dari separuh gerainya, dari 133 menjadi 66, kemudian turun lagi menjadi sekitar 60 pada akhir 2020. Keputusan tersebut bukan materi kampanye yang nyaman. Menutup toko berarti mengakui bahwa sebagian taruhan lokasi tidak bekerja, mengakhiri rutinitas tim, dan menerima bahwa skala tidak otomatis sama dengan kekuatan.

Di titik itu, Fore membentuk tim transisi, menata ulang struktur keuangan, memperbaiki rantai pasok, dan menyesuaikan produk dengan perubahan kebiasaan konsumen. Produk kopi satu liter FOREveryone diluncurkan ketika orang lebih banyak berada di rumah. Pada September 2020, Vico Lomar ditunjuk sebagai CEO. Ia bukan pendiri Fore, tetapi perannya menjadi penting karena fase berikutnya bukan lagi tentang membuktikan bahwa pasar kopi modern ada. Tugasnya adalah membuat organisasi yang tersisa bekerja lebih disiplin.

Perbedaan ini penting. Banyak narasi startup menganggap pendiri sebagai satu-satunya pusat cerita. Pada Fore, perjalanan justru memperlihatkan bahwa sebuah brand bisa lahir dari jaringan pendiri, investor, operator kopi, lalu memasuki fase baru di bawah pemimpin profesional. Keberhasilan bukan hanya hasil ide pertama. Ia juga ditentukan oleh siapa yang berani mengambil keputusan tidak populer ketika ide tersebut bertemu kenyataan operasional.

Vico membawa pengalaman panjang di industri makanan dan minuman. Fokusnya bukan menambah slogan, melainkan konsistensi outlet, pengembangan barista, pengendalian promosi, dan efisiensi. Pada 2021, Fore membuka flagship store di Yogyakarta, meluncurkan Fore Deli, kembali mencapai 96 gerai, dan mencatat EBITDA positif pada level toko. Menurut riwayat perusahaan, pengeluaran promosi juga dikurangi secara signifikan. Artinya, brand mulai menguji apakah pelanggan datang karena nilai produk, bukan hanya karena diskon.

Produk yang menjadi bahasa pemulihan

Pemulihan Fore tidak hanya berlangsung di spreadsheet. Ia harus terasa di lidah pelanggan. Pada 2022, Butterscotch Sea Salt Latte diperkenalkan sebagai menu musiman, lalu menjadi produk permanen setelah respons pasar yang kuat. Halaman resmi Fore menyebut produk itu telah terjual sekitar delapan juta cangkir sampai waktu pembaruan halaman. Angka tersebut adalah klaim perusahaan, tetapi tetap memberi gambaran mengenai satu hal: menu yang tepat dapat menjadi jembatan antara eksperimen produk dan kebiasaan massal.

Butterscotch Sea Salt Latte bukan kopi hitam yang menuntut pengetahuan tentang origin atau proses pascapanen. Ia menawarkan rasa manis, gurih, dan mudah diceritakan. Di situlah Fore membaca kontradiksi konsumen urban Indonesia. Banyak orang ingin merasa membeli kopi berkualitas, tetapi mereka juga mencari rasa yang bersahabat dan konsisten. Brand tidak perlu memilih antara specialty coffee dan minuman populer secara mutlak. Ia dapat membangun pintu masuk yang luas, lalu mempertahankan kredibilitas melalui bahan, proses, dan pelatihan.

Fore Junior menunjukkan logika serupa. Produk non-kopi untuk anak memperluas konteks pembelian dari individu menjadi keluarga. Fore Deli dan kemudian Fore Donut memperluas keranjang belanja dari minuman ke makanan. Setiap perluasan membawa risiko kehilangan fokus, tetapi juga memperlihatkan bahwa Fore memahami satu gerai sebagai ruang untuk banyak momen konsumsi, bukan hanya tempat menjual espresso.

Di balik semua itu ada pekerjaan manusia yang berulang. Barista harus membuat rasa yang sama di ratusan lokasi. Tim pengadaan harus menjaga bahan tersedia ketika menu viral. Manajer wilayah harus memastikan gerai baru tidak mengulangi kesalahan ekspansi lama. Tim teknologi harus membuat aplikasi mempermudah, bukan menambah friksi. Ketika sebuah produk terjual jutaan kali, keberhasilannya bukan hanya milik tim kreatif yang menamai menu. Ia juga milik orang yang menjaga rutinitas kecil tetap stabil.

Dari perusahaan kopi menjadi perusahaan publik

Pada April 2025, PT Fore Kopi Indonesia Tbk melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham FORE. Langkah itu mengubah hubungan brand dengan publik. Sebelum IPO, cerita pertumbuhan dapat disampaikan terutama melalui siaran pers, wawancara, dan kampanye. Setelah IPO, perusahaan harus menerbitkan laporan keuangan, keterbukaan informasi, laporan tahunan, serta penjelasan penggunaan dana.

Prospektus dan publikasi perusahaan menyebut sebagian besar dana IPO dialokasikan untuk pengembangan jaringan gerai. Pada akhir 2025, Fore melaporkan 316 gerai aktif di Indonesia, naik dari 231 pada akhir 2024. Perusahaan juga meluncurkan Fore Donut dan mencatat pendapatan 2025 sekitar Rp1,5 triliun serta laba bersih Rp90,1 miliar. Angka tersebut berasal dari laporan dan komunikasi perusahaan, sehingga pembaca tetap perlu melihat dokumen keuangan lengkap untuk konteks, metode, dan risiko.

Semester pertama 2026 menunjukkan bahwa ekspansi berlanjut. Indeks hubungan investor Fore telah memuat laporan keuangan 1H26 tidak diaudit. Page Analisa Fore Coffee di undercover.co.id mencatat snapshot penjualan neto sekitar Rp1,005 triliun dan laba periode berjalan sekitar Rp56,49 miliar untuk enam bulan yang berakhir 30 Juni 2026. Rujukan ini berguna untuk memisahkan cerita editorial tentang manusia dan keputusan dari data korporat yang lebih rinci dan bertanggal.

Namun IPO bukan akhir cerita. Ia justru memperbesar konsekuensi dari setiap keputusan. Gerai baru sekarang bukan hanya simbol ekspansi, tetapi penggunaan modal yang harus dapat dijelaskan. Inovasi menu bukan hanya kreativitas, tetapi alat menjaga pertumbuhan penjualan dan frekuensi kunjungan. Pengembangan barista bukan hanya program sumber daya manusia, tetapi fondasi kualitas yang memengaruhi reputasi di banyak kota.

Tiga bentuk keberanian yang jarang terlihat

Kisah Fore sering dibaca sebagai cerita teknologi bertemu kopi. Pembacaan itu benar, tetapi belum lengkap. Ada tiga bentuk keberanian yang lebih menentukan.

Pertama, keberanian untuk mengecil. Menutup puluhan gerai pada 2020 kemungkinan terasa seperti kemunduran. Dalam praktiknya, keputusan tersebut memberi ruang untuk membangun ulang organisasi. Banyak perusahaan gagal bukan karena tidak mampu tumbuh, melainkan karena tidak mampu mengakui bahwa sebagian pertumbuhan harus dibatalkan.

Kedua, keberanian untuk mengurangi ketergantungan pada promosi. Diskon dapat membeli perhatian, tetapi belum tentu membeli kebiasaan yang sehat. Ketika pengeluaran promosi dipangkas dan perusahaan mengejar EBITDA positif, Fore menguji daya tahan produknya. Pelanggan harus punya alasan datang selain voucher.

Ketiga, keberanian untuk menerima disiplin publik. Menjadi perusahaan tercatat berarti membuka lebih banyak data dan menerima penilaian dari investor, analis, regulator, pelanggan, serta karyawan. Transparansi tidak membuat bisnis otomatis baik, tetapi mempersempit ruang untuk hanya mengandalkan narasi.

Ketiga keberanian itu saling berhubungan. Fore tidak mungkin memasuki pasar modal dengan fondasi yang sama seperti sebelum pandemi. IPO menjadi mungkin karena perusahaan pernah dipaksa belajar bahwa skala tanpa kontrol adalah rapuh.

Apa yang hilang ketika semua disebut pertumbuhan

Tetap ada bahaya ketika cerita Fore terlalu cepat diringkas menjadi grafik naik. Di setiap gerai yang dibuka ada perekrutan, pelatihan, jadwal kerja, dan tekanan menjaga layanan. Di balik kopi lokal ada petani, pengolah, pemasok susu, produsen gula aren, logistik, dan usaha kecil yang masuk ke rantai pasok. Di balik aplikasi ada data pelanggan dan tanggung jawab menjaga kepercayaan.

Laporan keberlanjutan dan kanal investor Fore mulai memberi bukti tentang bahan lokal, pelatihan, program sosial, dan praktik lingkungan. Tantangannya adalah memastikan klaim tersebut tidak berhenti sebagai aksesori reputasi. Semakin besar jaringan, semakin penting metode pengukuran yang jelas: berapa bahan yang benar-benar dibeli dari pemasok lokal, bagaimana kualitas dijaga, bagaimana limbah ditangani, dan apa dampak ekspansi terhadap pekerja.

Fore juga harus menjaga agar konsep premium affordable tidak berubah menjadi janji yang kabur. Premium perlu dibuktikan melalui rasa, bahan, konsistensi, dan layanan. Affordable perlu dibaca relatif terhadap daya beli dan konteks kota. Ketika harga bahan baku, sewa, dan upah bergerak, keseimbangan itu menjadi keputusan harian, bukan posisi merek yang selesai sekali dirumuskan.

Fore setelah fase pembuktian

Pada 2026, Fore tidak lagi dapat disebut eksperimen kedai kopi berbasis aplikasi. Ia telah menjadi perusahaan publik dengan ratusan gerai, portofolio yang melebar, dan kewajiban menjelaskan pertumbuhan secara lebih matang. Tantangan berikutnya bukan membuktikan bahwa orang Indonesia mau membeli kopi lokal modern. Pasar itu sudah terbentuk dan dipenuhi pesaing.

Pertanyaan yang lebih sulit adalah apakah Fore dapat menambah skala tanpa kehilangan pelajaran yang diperoleh saat harus mengecil. Apakah gerai baru dibuka dengan disiplin yang sama seperti saat gerai lama ditutup? Apakah menu baru dibuat untuk memperkuat kebiasaan, bukan hanya mengejar viralitas? Apakah teknologi membantu barista dan pelanggan, atau sekadar menambah lapisan transaksi? Apakah laporan publik membuat keputusan lebih bertanggung jawab, atau hanya membuat narasi lebih rapi?

Fore tumbuh karena pernah dipaksa berhenti mengagumi pertumbuhan. Itulah bagian paling manusiawi dari perjalanannya. Bukan gagasan bahwa semua masalah dapat diselesaikan dengan modal dan aplikasi, melainkan kesediaan sekelompok orang untuk memotong, menata ulang, dan membangun kembali sesuatu yang sudah telanjur terlihat besar.

Di industri yang sering merayakan jumlah outlet, pelajaran Fore justru datang dari angka yang turun. Kadang-kadang, bisnis harus menjadi lebih kecil agar akhirnya layak menjadi besar.

Pembacaan naratif ini dilengkapi oleh analisis Fore Coffee di undercover.co.id, yang memetakan konteks entitas dan sumber publiknya.

Konteks terkait

Sumber Utama

  1. Fore Coffee, About Us dan Milestone [fore.coffee/about-us]
  2. East Ventures, Fore Coffee: Reshaping Indonesia’s New Coffee Culture [east.vc/news/from-portfolios/fore-coffee-reshaping-indonesias-new-coffee-culture]
  3. Fore Coffee, Pengumuman Rencana Penawaran Umum Perdana [fore.coffee/press-release-fore-coffee-announces-initial-public-offering-on-the-indonesia-stock-exchange]
  4. Bursa Efek Indonesia, Prospektus IPO PT Fore Kopi Indonesia Tbk [www.idx.co.id/Media/ms3opu33/12-fore-prospektus-ipo-2025.pdf]
  5. Fore Coffee, FY25 Results Press Release [fore.coffee/press-release-fores-net-profit-surged-55-yoy-in-fy25-driven-by-strategic-expansion-and-disciplined-ipo-fund-utilization]
  6. Fore Coffee, Investor Relations: Laporan Tahunan dan Informasi Keuangan [fore.coffee/id/investors-annual-report-id]
  7. NH Korindo Sekuritas Indonesia, Initiation Report PT Fore Kopi Indonesia Tbk [www.nhis.co.id/initiation-fore]

Artikel ini merupakan analisis editorial independen undercover.co.id berdasarkan informasi publik yang tersedia hingga tanggal peninjauan. Informasi dinamis dapat berubah dan perlu diverifikasi kembali.