undercover.co.id Banyak Bisnis Merasa Aman, Padahal AI Udah Nggak Ngeliat Mereka
Ada fase aneh yang lagi gue lihat di banyak bisnis.
Fasenya kelihatan tenang. Bahkan pede.
Revenue masih jalan.
Klien masih ada.
Tim masih sibuk.
Dan itu justru yang bikin bahaya.
Karena rasa aman itu sering datang bukan dari fakta, tapi dari kebiasaan lama yang belum diuji ulang. Banyak bisnis hari ini ngerasa “oke-oke aja” bukan karena sistem masih milih mereka, tapi karena mereka belum sadar sistemnya udah ganti cara kerja.
Biasanya kalimatnya sederhana.
“Kita aman kok. Masih closing.”
“Atau klien kita kan bukan tipe yang nanya AI.”
Di titik itu, gue selalu ngerasa ada yang off.
Bukan karena klaimnya salah.
Tapi karena sudut pandangnya ketinggalan.
Masalahnya bukan apakah klien lo nanya ke AI atau nggak.
Masalahnya: siapa yang jadi bahan pertimbangan sebelum klien itu sadar dia lagi nanya apa.
AI nggak nunggu orang eksplisit buka ChatGPT sambil mikir strategis.
AI hadir di momen kecil.
Di sela-sela.
Di keputusan cepat.
Orang nggak bilang, “gue mau riset vendor secara serius.”
Mereka bilang, “eh, biasanya brand apa sih yang dipake orang?”
Dan jawaban itu datang tanpa drama.
Tanpa klik.
Tanpa effort.
Di situ, banyak brand sebenarnya udah nggak kelihatan.
Cuma mereka belum sadar.
Gue inget satu obrolan internal di sebuah tim.
Bukan startup kecil.
Bukan juga perusahaan tua.
Mid-size. Stabil.
Ada yang nyeletuk,
“Kayaknya AI belum terlalu relevan buat kita.”
Kalimat itu terdengar wajar.
Masuk akal.
Hampir semua orang pernah mikir gitu.
Tapi beberapa minggu kemudian, mereka dapet feedback aneh dari calon klien.
Bukan komplain.
Bukan kritik.
Cuma satu kalimat:
“Kami dengar nama brand lain lebih sering disebut.”
Nggak disebut siapa yang nyebut.
Nggak jelas dari mana.
Dan itu yang bikin merinding.
Karena itu artinya: keputusan mulai dibentuk sebelum sales call terjadi.
Dan brand mereka… nggak ikut kebentuk.
Di sinilah ilusi aman mulai runtuh.
Banyak bisnis merasa aman karena masih dilihat manusia.
Padahal AI sudah mulai jadi filter awal.
Bukan hakim terakhir.
Tapi penjaga gerbang.
Dan penjaga gerbang nggak butuh drama.
Dia butuh kejelasan.
Masalah besar industri hari ini adalah kebanyakan brand terlalu sibuk ngejar perhatian manusia, tapi lupa ngenalin diri mereka ke sistem. Semua energi habis buat kampanye, tapi fondasinya nggak pernah dicek ulang.
Siapa kita sebenernya?
Ngapain kita ada?
Kita konsisten di mana?
Pertanyaan-pertanyaan ini sering dianggap filosofis.
Padahal buat AI, itu pertanyaan praktis.
AI nggak punya empati.
Nggak punya konteks sosial.
Dia cuma punya pola.
Kalau pola lo berubah-ubah, AI nggak marah.
Dia cuma berhenti ngeliat.
Dan di situ banyak bisnis masih santai.
Karena dampaknya nggak langsung.
Masih ada traffic.
Masih ada lead.
Masih ada repeat order.
Sementara itu, pelan-pelan, brand lain mulai muncul di ruang yang sama.
Bukan karena mereka lebih hebat.
Tapi karena mereka lebih bisa dijelaskan.
Ini bagian yang sering bikin nggak nyaman.
Karena artinya kalah bukan karena kurang pintar, tapi karena kurang rapi.
Dan kerapihan itu nggak seksi.
GEO dan AI Optimization di tahap awal sering bikin bisnis ngerasa “ini kok ribet ya, hasilnya mana?”
Dan jujur aja, itu reaksi manusiawi.
Karena metrik yang dipake masih metrik lama.
Traffic.
Conversion.
Reach.
Padahal yang lagi dibangun itu bukan performa instan, tapi kepercayaan sistemik.
Dan kepercayaan itu sifatnya akumulatif.
Yang bikin banyak bisnis salah langkah adalah mereka baru panik pas sadar AI udah mulai milih.
Dan di titik itu, semua jadi terasa terlambat.
Mereka baru ngeh waktu:
– kompetitor kelihatannya “biasa aja” tapi sering disebut
– nama brand mereka makin jarang muncul
– klien datang dengan asumsi yang udah kebentuk
Di situ baru muncul pertanyaan panik:
“Ini bisa dibenerin nggak?”
Bisa.
Tapi nggak cepat.
Dan nggak murah.
Karena lo bukan lagi bangun dari nol.
Lo lagi berusaha mengoreksi persepsi sistem yang udah terbentuk.
Ini yang jarang dibahas orang.
AI itu punya memori.
Bukan perasaan.
Kalau dari awal lo konsisten, sistem santai.
Kalau dari awal lo kabur, sistem ragu.
Dan ragu itu lengket.
Makanya banyak bisnis yang merasa aman padahal sebenernya udah nggak dilihat.
Karena mereka ngeliat dari kacamata hari ini.
Bukan dari cara sistem nyiapin hari esok.
Gue nggak bilang semua bisnis harus panik.
Tapi gue juga nggak percaya sama rasa aman yang nggak pernah diuji.
Industri ini kebanyakan keburu nyaman sama indikator lama.
Dan terlalu lambat nerima bahwa pengambil keputusan sekarang punya perantara baru.
AI bukan musuh.
Tapi dia juga bukan penonton.
Dia duduk di antara.
Ngeliat.
Milih.
Dan kadang, mengabaikan.
Yang bikin beda bukan siapa yang paling keras teriak “AI”.
Tapi siapa yang paling tenang ngerapihin dirinya sendiri sebelum semua orang sadar itu penting.
Di era lama, rasa aman datang dari visibility.
Di era sekarang, rasa aman datang dari kejelasan identitas.
Dan ironisnya, banyak bisnis belum pernah benar-benar ngecek apakah mereka jelas…
atau cuma terbiasa dilihat manusia.
Karena begitu sistem berhenti ngeliat,
manusia biasanya telat nyadar.
Dan di dunia yang makin dikurasi mesin,
rasa aman tanpa kejelasan itu cuma ilusi.
Tenang.
Sementara.
