Pada penghujung 2025, sebuah kalimat pendek di halaman layanan Mola mengakhiri perjalanan yang selama beberapa tahun ikut mengubah cara sebagian orang Indonesia menonton sepak bola. Layanan itu menyatakan akan berhenti beroperasi di semua platform pada 31 Desember 2025. Tidak ada musim baru, tidak ada migrasi besar yang diumumkan kepada publik, dan tidak ada penjelasan panjang mengenai apa yang terjadi di balik layar.
Penutupan itu terasa kontras dengan cara Mola memasuki percakapan publik pada 2019. Ketika hak siar Liga Inggris berpindah, penggemar yang terbiasa menyalakan televisi atau mengandalkan paket saluran olahraga harus mempelajari kebiasaan baru. Mereka mengunduh aplikasi, memahami paket, menghubungkan perangkat ke layar, memeriksa kualitas jaringan, dan mencari tahu pertandingan mana yang tersedia gratis atau berbayar. Sebuah platform digital tidak sekadar menawarkan tontonan. Ia meminta penonton mengubah rutinitas akhir pekannya.
Karena itu, cerita Mola bukan hanya cerita tentang sebuah layanan streaming yang pernah memiliki konten olahraga besar lalu berhenti. Ini adalah cerita tentang betapa kuat sekaligus rapuhnya kebiasaan digital ketika pusat gravitasinya adalah hak siar. Mola berhasil membuat jutaan percakapan tentang sepak bola beririsan dengan aplikasi, koneksi internet, perangkat, dan langganan. Namun ketika konten yang membentuk kebiasaan itu berpindah, identitas platform juga harus bekerja jauh lebih keras untuk bertahan.
Hak siar sebagai pintu masuk ke rumah orang
Liga Inggris adalah produk media dengan ritme yang sudah tertanam dalam kehidupan penontonnya. Jadwal pertandingan hadir tiap pekan, klub memiliki komunitas lintas generasi, dan hasil satu laga menjadi bahan percakapan hingga hari kerja berikutnya. Ketika Mola memegang hak siar Liga Inggris di Indonesia untuk periode 2019 sampai 2022, platform tersebut tidak sedang menjual satu film atau satu serial. Ia masuk ke rutinitas yang berulang.
Mola kemudian bekerja sama dengan TVRI sebagai mitra siaran free-to-air untuk musim 2019/2020. Model ini menarik karena memperlihatkan dua arah distribusi sekaligus. Televisi terbuka menjaga jangkauan massal, sedangkan layanan digital mengarahkan penonton yang ingin akses lebih lengkap ke platform Mola. Di tingkat pengalaman pengguna, pembagian ini menciptakan pertanyaan yang sangat praktis: pertandingan mana yang tayang gratis, mana yang harus ditonton lewat aplikasi, perangkat apa yang diperlukan, dan berapa biaya yang harus dibayar.
Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak terjadi hanya karena sebuah aplikasi tersedia. Transformasi terjadi ketika orang bersedia mengubah tindakan. Penggemar yang sebelumnya cukup mencari nomor kanal harus membuat akun, mempelajari antarmuka, dan menerima bahwa kualitas tontonan dipengaruhi jaringan internet di rumah. Bagi penonton muda, proses itu mungkin terasa wajar. Bagi keluarga yang sudah puluhan tahun menonton sepak bola melalui televisi linear, perubahan tersebut membutuhkan pendampingan, percobaan, dan kadang frustrasi.
Mola memahami bahwa pertandingan juga merupakan kegiatan sosial. Program Mola Live Arena mengarah pada tempat-tempat komersial yang ingin mengadakan penayangan bersama. Di sini, hak siar menyentuh kedai, restoran, ruang komunitas, dan kebiasaan menonton kolektif. Nilai sebuah pertandingan bukan hanya pada gambar yang muncul di layar, melainkan pada orang-orang yang berkumpul di depannya.
Dari sepak bola menuju paket hiburan yang lebih lebar
Masalah terbesar platform yang tumbuh dari olahraga adalah ketergantungan pada kalender kompetisi dan lisensi. Hak siar memiliki masa berlaku, biaya tinggi, wilayah distribusi, dan persaingan penawaran. Ketika satu aset terlalu dominan, publik dapat mengenali platform hanya melalui aset tersebut. Mola perlu membuktikan bahwa orang akan tetap datang ketika tidak ada pertandingan besar.
Upaya memperlebar identitas terlihat dari kerja sama dengan HBO GO pada 2020. Mola menawarkan paket Premium Entertainment yang menggabungkan layanan Mola dengan katalog HBO GO. Langkah ini menunjukkan ambisi menjadi pintu hiburan yang lebih luas, bukan hanya aplikasi sepak bola. Film, serial, tayangan anak, dokumenter, konser, dan program original dipakai untuk memperpanjang waktu yang dihabiskan pengguna di dalam ekosistem.
Mola juga menghubungkan olahraga dengan hiburan langsung. Saat UEFA Euro 2020 digelar pada 2021, platform ini memiliki hak OTT untuk menayangkan seluruh 51 pertandingan di Indonesia. Di sekitar turnamen tersebut, Mola menghadirkan program musik dan festival digital dengan musisi Indonesia serta internasional. Pertandingan menjadi jangkar, tetapi pengalaman di sekelilingnya dirancang agar lebih mirip sebuah festival daripada sekadar jadwal siaran.
Strategi itu masuk akal. Penggemar mungkin datang karena tim nasional atau klub favorit, tetapi platform berharap mereka menemukan alasan lain untuk bertahan. Dalam bisnis streaming, katalog yang lebar membantu mengurangi risiko pengguna berhenti setelah musim selesai. Namun keluasan katalog tidak otomatis menghasilkan identitas. Netflix dikenal melalui skala global dan produksi originalnya. Disney memiliki waralaba yang telah hidup lintas generasi. Platform olahraga dikenal melalui hak eksklusif. Mola harus menyatukan olahraga, film, musik, dokumenter, dan program anak dalam satu alasan yang cukup jelas untuk terus dibayar.
Garuda Select dan usaha membuat cerita yang tidak dapat dibeli begitu saja
Salah satu bagian paling khas dari perjalanan Mola adalah keterlibatannya dalam Garuda Select. Program pengembangan pemain muda tersebut merupakan kerja sama dengan PSSI dan membawa pemain Indonesia menjalani pembinaan serta pertandingan di Eropa. Kementerian Pemuda dan Olahraga mencatat pelepasan 22 pemain Garuda Select III pada 2020.
Bagi Mola, program ini memiliki nilai yang berbeda dari hak siar kompetisi luar negeri. Hak siar memberi akses terhadap produk yang sudah memiliki penonton. Garuda Select memberi bahan untuk membangun cerita dari awal. Penonton tidak hanya melihat hasil pertandingan, tetapi dapat mengikuti proses latihan, adaptasi pemain muda, tekanan hidup jauh dari rumah, dan peluang mereka untuk dilihat klub lain.
Di sinilah platform media berpotensi berubah dari distributor menjadi pembentuk narasi. Mola tidak hanya mengambil gambar yang sudah selesai diproduksi oleh pemilik liga. Ia ikut berada di dekat proses pembinaan, mengemas dokumenter, dan mempertemukan ambisi pemain muda dengan rasa ingin tahu penonton Indonesia.
Nilai semacam ini sulit diukur hanya melalui jumlah pertandingan. Seorang pemain yang gagal menembus level tertinggi tetap dapat menghasilkan cerita tentang disiplin, ketahanan, dan batas sistem pembinaan. Penonton mendapat kedekatan yang tidak muncul ketika menonton bintang Eropa dari jauh. Bagi platform, cerita lokal seperti ini dapat menjadi aset identitas yang tidak langsung hilang ketika lisensi kompetisi berpindah.
Namun aset naratif memerlukan konsistensi bertahun-tahun. Ia tidak memiliki daya tarik instan sebesar pertandingan Manchester United, Liverpool, Arsenal, atau klub besar lain. Membangun kedekatan dengan talenta muda membutuhkan kesabaran editorial, distribusi yang stabil, dan keyakinan bahwa penonton akan mengikuti proses, bukan hanya hasil.
Ketika konten utama pergi
Periode setelah hak siar Liga Inggris berpindah menjadi ujian sesungguhnya. Selama tiga musim, banyak pengguna mengenal Mola melalui satu jawaban sederhana: tempat menonton Liga Inggris. Setelah musim 2021/2022, jawaban itu tidak lagi berlaku. Mola masih memiliki film, serial, olahraga lain, pertunjukan musik, dan program original, tetapi jangkar kebiasaannya melemah.
Ini adalah titik penting dalam ekonomi platform. Pengguna tidak membeli teknologi streaming secara abstrak. Mereka membeli akses terhadap sesuatu yang ingin dilihat. Aplikasi, rekomendasi, kualitas video, dan perangkat adalah fasilitas yang membuat akses lebih nyaman. Konten tetap menjadi alasan pertama.
Ketika hak siar berpindah, platform harus mengalihkan perhatian pengguna ke aset lain sebelum kebiasaan lama putus. Jika migrasi identitas terlambat, aplikasi tetap ada tetapi alasan membuka aplikasi semakin jarang. Frekuensi berkurang, biaya langganan terasa lebih mudah dipangkas, dan posisi ikon di layar ponsel perlahan digantikan layanan lain.
Penutupan Mola pada akhir 2025 memperlihatkan batas dari strategi yang terlalu mudah dibaca melalui hak eksklusif. Publik dapat mengingat periode kejayaannya, tetapi tidak selalu dapat menyebut satu waralaba original yang hidup lebih lama daripada lisensi olahraga tersebut. Ini bukan berarti upaya diversifikasi tidak ada. Justru katalog, kolaborasi HBO GO, konser, film, dokumenter, dan Garuda Select menunjukkan usaha yang nyata. Persoalannya adalah apakah seluruh usaha itu berhasil membentuk identitas yang cukup kuat setelah pintu masuk utamanya tertutup.
Pemberitahuan penutupan juga menjadi pengingat mengenai hubungan yang tidak seimbang antara platform dan pelanggan. Pelanggan membangun daftar tontonan, histori, preferensi, dan rutinitas. Platform dapat menghentikan layanan ketika keputusan bisnis berubah. Data mungkin dianonimkan sesuai kebijakan, tetapi kebiasaan dan arsip personal pengguna tidak selalu memiliki tempat tujuan baru.
Mola sebagai catatan perubahan perilaku
Mola tetap penting dibaca meskipun layanannya sudah berhenti. Ia hadir pada fase ketika pasar Indonesia sedang belajar bahwa pertandingan besar tidak lagi selalu berada di saluran televisi yang sama. Platform ini mempercepat percakapan tentang OTT, perangkat streaming, paket digital, hak penayangan untuk tempat usaha, dan perbedaan akses antara tayangan gratis dengan premium.
Ia juga menunjukkan bahwa transformasi penonton berlangsung tidak merata. Sebagian orang cepat menerima aplikasi. Sebagian lain merasa prosesnya terlalu rumit. Ada yang menilai perangkat khusus sebagai hambatan. Ada pula yang akhirnya belajar melakukan casting ke televisi karena klub favoritnya hanya dapat ditonton melalui jalur tersebut. Friksi-friksi kecil ini sering tidak terlihat dalam presentasi bisnis, tetapi justru menentukan apakah perubahan perilaku bertahan.
Untuk melihat posisi Mola sebagai entitas, riwayat layanan, jejak digital, dan konteks kategorinya secara lebih terstruktur, pembaca dapat merujuk Page Analisa Mola di /analisa/mola/. Post ini memilih satu pusat cerita yang lebih sempit, yaitu hubungan antara hak siar, kebiasaan penonton, dan daya tahan identitas platform.
Ada pelajaran yang lebih luas bagi layanan media. Hak eksklusif dapat membeli perhatian, tetapi tidak otomatis membeli loyalitas terhadap merek. Perhatian melekat pada pertandingan, film, atau figur yang dicari penonton. Loyalitas baru berpindah ke platform ketika pengalaman, komunitas, dan karya original membentuk alasan yang tidak mudah dipindahkan oleh kontrak berikutnya.
Mola pernah membuat akhir pekan ribuan penggemar bergantung pada aplikasi dan koneksi internet. Itu bukan pencapaian kecil. Ia membantu menggeser menonton sepak bola dari kebiasaan kanal menuju kebiasaan akun. Namun perjalanan akhirnya juga menunjukkan bahwa kebiasaan digital dapat berakhir secepat lisensi, katalog, dan keputusan korporasi berubah.
Layar terakhir Mola padam pada 31 Desember 2025. Yang tersisa bukan hanya nostalgia pertandingan atau aplikasi yang pernah terpasang, melainkan sebuah studi tentang cara platform masuk ke kehidupan sehari-hari melalui konten yang sangat dicintai, lalu menghadapi kenyataan bahwa cinta penonton sejak awal mungkin tertuju pada pertandingan, bukan pada tempat pertandingan itu ditayangkan.
Rujukan terstruktur mengenai posisi dan identitas publiknya tersedia dalam analisis Mola di undercover.co.id.
Bacaan terkait di undercover.co.id
Sumber Utama
- ANTARA News, “Liga Inggris 2019/2020 akan ditayangkan di TVRI” [www.antaranews.com/berita/922577/liga-inggris-20192020-akan-ditayangkan-di-tvri?fullsite=true]
- ANTARA News, “Mola siarkan langsung seluruh pertandingan UEFA Euro 2020” [www.antaranews.com/berita/2145330/mola-siarkan-langsung-seluruh-pertandingan-uefa-euro-2020]
- ANTARA News, “Mola TV gandeng HBO GO, hadirkan tayangan premium” [www.antaranews.com/berita/1708526/mola-tv-gandeng-hbo-go-hadirkan-tayangan-premium.html]
- Kementerian Pemuda dan Olahraga, “Menpora RI Lepas 22 Pemain Garuda Select III” [www.kemenpora.go.id/detail/217/menpora-ri-lepas-22-pemain-garuda-select-iii]
- Goal Indonesia, “Mola TV Sajikan Program Dokumenter Garuda Select” [www.goal.com/id/berita/mola-tv-sajikan-program-dokumenter-garuda-select/1v7cua0svzm1k1110sodpgugmv]
- Selular.ID, “Mola TV Tutup 31 Desember 2025, Pelanggan Tak Dapat Kompensasi” [selular.id/2025/12/mola-tv-tutup-31-desember-2025-pelanggan-tak-dapat-kompensasi]
- Telset, “Mola TV Tutup 31 Desember 2025, Akhir Perjalanan Platform Streaming Djarum” [telset.id/apps/mola-tv-tutup-31-desember-2025-akhir-perjalanan-platform-streaming-djarum]
Artikel ini merupakan analisis editorial independen undercover.co.id berdasarkan informasi publik yang tersedia hingga tanggal peninjauan. Informasi dinamis dapat berubah dan perlu diverifikasi kembali.