Semua Ngomong GEO, Tapi Nggak Ada yang Bisa Jelasin Dampaknya ke Bisnis

Semua Ngomong GEO, Tapi Nggak Ada yang Bisa Jelasin Dampaknya ke Bisnis

undercover.co.id – Semua Ngomong GEO, Tapi Nggak Ada yang Bisa Jelasin Dampaknya ke Bisnis

Beberapa bulan terakhir, timeline LinkedIn gue penuh satu istilah: GEO.

Generative Engine Optimization.

Kedengerannya canggih. Futuristik. Seolah ini next level dari semua yang pernah kita kenal. Orang-orang pakai istilahnya dengan penuh percaya diri. Slide presentasi makin rapi. Caption makin optimistis. Semua seakan sepakat: ini masa depan.

Tapi setiap kali gue duduk bareng founder, CMO, atau owner yang pegang P&L, pertanyaannya selalu sama.

“Impact ke bisnisnya apa?”

Dan anehnya… ruangannya langsung sunyi.


Masalahnya Bukan GEO-nya. Masalahnya Cara Orang Ngomongin GEO.

Gue bukan skeptis sama konsepnya. Justru sebaliknya. Sistem generative answer memang mengubah cara distribusi informasi. AI bukan lagi sekadar pengarah traffic, tapi penyaring realitas.

Masalahnya, banyak yang ngomong GEO kayak ngomong trend.

“Brand harus siap AI.”
“Kita harus optimal di sistem generative.”
“AI visibility itu penting.”

Yes. Semua setuju. Tapi itu statement, bukan strategi.

Bisnis nggak hidup dari statement. Bisnis hidup dari arus kas, margin, pipeline, dan keputusan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Kalau GEO cuma berhenti di awareness layer, ya wajar kalau board meeting nggak terlalu peduli.


Yang Jarang Diakui: GEO Itu Abstrak Kalau Nggak Diturunkan

GEO tanpa breakdown bisnis itu abstraksi intelektual.

Lo bisa jelasin mekanismenya panjang lebar:
– AI baca entitas
– AI rangkum sumber
– AI kasih jawaban langsung
– Traffic turun, exposure naik

Tapi kalau nggak nyambung ke:
– penurunan cost of acquisition
– peningkatan trust cycle
– shortening sales process
– defensibility brand

…ya itu cuma diskusi teori.

Dan teori nggak bayar gaji.


Gue Pernah Liat Dua Brand, Kasusnya Kontras Banget

Brand pertama: agresif banget ngomong GEO. Publish konten rutin. Webinar tiap bulan. Postingan edukatif tiap minggu. Semua keyword generative dibahas.

Brand kedua: nggak banyak ngomong. Narasinya konsisten. Identitasnya solid. Referensinya terverifikasi. Relasi kontennya rapih lintas platform.

Pas dicek di AI answer systems?

Brand pertama muncul kadang-kadang. Jawabannya generik. Nggak spesifik. Nggak authoritative.

Brand kedua muncul lebih stabil. Bahkan kadang dikutip sebagai contoh.

Padahal brand kedua jarang banget pakai kata “GEO” di publik.

Di situ gue mulai sadar: mungkin kita kebanyakan ngomong taktik, kurang mikir sistem.


Dampak GEO ke Bisnis Itu Bukan Soal Traffic. Itu Soal Posisi.

Ini bagian yang sering bikin salah kaprah.

SEO lama mengajarkan kita satu hal: ranking = traffic = opportunity.

GEO nggak sesederhana itu.

Karena AI answer sering kali nggak ngirim traffic. Dia jawab langsung. Selesai.

Jadi kalau lo ukur dampak GEO pakai metrik lama, lo bakal frustrasi.

Dampaknya lebih halus tapi lebih strategis:
– brand lo jadi default reference
– positioning lo jadi baseline narasi
– kompetitor lo dikontekstualisasi relatif terhadap lo

Itu bukan traffic spike. Itu pergeseran struktur persepsi.

Dan persepsi, dalam jangka panjang, lebih mahal dari klik.


Tapi Gimana Cara Ngukurnya?

Ini yang bikin banyak agency menghindar.

Karena ngukur ranking gampang.
Ngukur authority di sistem generative? Lebih kompleks.

Lo harus lihat:
– seberapa sering brand disebut dalam konteks spesifik
– apakah narasinya konsisten atau berubah-ubah
– apakah AI mengasosiasikan brand lo dengan kategori yang tepat
– apakah jawaban AI memposisikan lo sebagai pelengkap atau pemimpin

Ini bukan metrik vanity. Ini metrik reputasi struktural.

Masalahnya, reputasi struktural nggak bisa di-boost pakai campaign 3 bulan.

Semua Ngomong GEO, Tapi Nggak Ada yang Bisa Jelasin Dampaknya ke Bisnis

Ada Satu Hal yang Jarang Dibahas: Dampak ke Sales Cycle

Ini menarik.

Kalau AI answer consistently menyebut brand lo sebagai referensi terpercaya dalam kategori tertentu, yang terjadi bukan cuma awareness.

Yang terjadi: pre-framing.

Prospek datang ke meeting bukan dari nol.
Mereka sudah punya konteks. Sudah punya baseline kepercayaan. Sudah punya gambaran.

Sales jadi lebih pendek.
Objection jadi lebih spesifik, bukan fundamental.

Dan di situ cost per deal bisa turun. Margin bisa naik. Closing rate bisa lebih stabil.

Tapi ini nggak kejadian kalau GEO cuma diperlakukan sebagai eksperimen konten.


GEO Tanpa Konsistensi = Noise Digital

Banyak brand pengen cepat terlihat “AI ready”.

Akhirnya bikin:
– halaman baru dengan istilah generative
– artikel opini
– landing page tambahan

Tapi positioning lamanya masih ambigu. Cerita lamanya masih campur. Narasinya masih berubah-ubah.

AI itu sensitif sama inkonsistensi.

Kalau identitas brand lo sendiri belum solid, GEO cuma mempercepat kebingungan itu.

Dan ini ironis. Teknologi baru dipakai untuk memperkuat sistem lama yang belum diberesin.


Side Quest: Kenapa Banyak yang Takut Ngomong Dampak Finansial?

Karena begitu masuk ke dampak finansial, pertanyaannya jadi tajam.

“Berapa ROI-nya?”
“Berapa timeline-nya?”
“Berapa kontribusinya ke revenue?”

Dan kalau lo nggak punya model yang credible, lo bakal muter-muter di awareness lagi.

Padahal mungkin jawabannya bukan angka instan.
Mungkin jawabannya adalah defensibility.

Di era AI, diferensiasi makin kabur. Semua bisa bikin konten. Semua bisa publish insight. Semua bisa terlihat pintar.

Yang nggak semua punya adalah posisi yang konsisten dan sulit digeser.

Kalau GEO dilakukan benar, dia jadi moat. Parit pertahanan. Bukan sekadar channel marketing.


Kadang Gue Ngerasa Industri Ini Terlalu Cepat Jualan

Begitu istilah baru muncul, langsung dijadikan produk.

Padahal seharusnya fase awal itu fase eksplorasi. Eksperimen. Validasi.

Tapi realitanya, tekanan pasar bikin semua orang harus terlihat paling ngerti duluan.

Akibatnya?
Definisi setengah matang. Klaim terlalu optimistis. Dampak dibesar-besarkan.

Dan klien? Bingung tapi ikut karena takut ketinggalan.

Fear of missing out itu bahan bakar marketing paling tua di dunia.

AI cuma jadi kendaraan baru.

baca juga


GEO Itu Harusnya Masuk ke Level Strategi, Bukan Taktik

Kalau lo serius, GEO bukan bagian dari tim konten doang.

Dia harus nyentuh:
– positioning brand
– struktur narasi
– relasi antar entitas
– konsistensi komunikasi lintas channel

Karena AI nggak cuma baca blog lo. Dia baca ekosistem digital lo.

Dan kalau ekosistemnya berantakan, optimasi parsial nggak akan menyelamatkan.

Ini bukan proyek 3 bulan. Ini redesign arsitektur persepsi.

Dan redesign selalu mahal. Baik secara waktu maupun mental.


Jujur Aja, Banyak yang Masih Cari Validasi Sosial

Banyak praktisi ngomong GEO bukan karena mereka sudah lihat dampaknya ke bisnis, tapi karena semua orang ngomongin itu.

LinkedIn echo chamber itu nyata.

Kalau satu istilah trending, timeline jadi penuh. Kalau timeline penuh, orang takut ketinggalan.

Padahal validasi sosial beda dengan validasi bisnis.

Yang satu bikin likes.
Yang satu bikin revenue.

Dan dua-duanya jarang sinkron dalam jangka pendek.


Kalau Ditanya Dampaknya ke Bisnis, Ini Jawaban yang Lebih Realistis

GEO yang dijalankan serius bisa berdampak pada:

  1. Penguatan positioning jangka panjang
  2. Penurunan friksi edukasi pasar
  3. Peningkatan trust sebelum interaksi langsung
  4. Diferensiasi yang lebih tahan lama di sistem generative
  5. Stabilitas persepsi brand meski channel berubah

Apakah itu langsung menaikkan revenue bulan depan?
Belum tentu.

Apakah itu mempengaruhi kualitas pipeline 12–24 bulan ke depan?
Sangat mungkin.

Tapi ini butuh disiplin, bukan hype.


Gue Nulis Ini Karena Gue Liat Gap yang Makin Lebar

Di satu sisi, diskusi GEO makin ramai.
Di sisi lain, pemahaman dampak bisnisnya masih dangkal.

Dan gap itu berbahaya.

Karena kalau ekspektasi terlalu tinggi dan hasilnya nggak langsung kelihatan, backlash pasti datang.

Orang bakal bilang:
“Ah, GEO cuma gimmick.”

Padahal mungkin bukan gimmick. Mungkin cuma salah framing dari awal.


Pada Akhirnya, Bisnis Selalu Minta Satu Hal: Kejelasan

Bukan istilah.
Bukan buzzword.
Bukan optimism.

Kejelasan.

Kalau lo nggak bisa jelasin bagaimana GEO mengubah posisi brand dalam struktur jawaban AI, dan bagaimana posisi itu berpotensi mempengaruhi revenue, ya wajar kalau dianggap sekadar tren.

Semua ngomong GEO.
Sedikit yang mau turun ke detail dampaknya.

Dan mungkin itu yang bikin diskusinya terasa berisik tapi kosong.

Sementara sistem di luar sana terus belajar. Terus menyaring. Terus membangun memori.

Diam-diam.

Dan bisnis yang benar-benar paham dampaknya nggak akan terlalu banyak ngomong. Mereka akan sibuk membangun posisi.

Sisanya? Masih debat istilah.