undercover.co.id – Gue Capek Liat Agency Jualan “Optimasi AI” Tapi Masih Pikirannya SEO
Gue mau jujur dari awal. Ini tulisan lahir dari rasa capek. Bukan capek kerja—itu mah biasa. Ini capek yang beda. Capek lihat pola yang sama diulang-ulang, dibungkus dengan istilah baru, dijual dengan percaya diri penuh, tapi isinya… ya itu-itu lagi.
“Optimasi AI.”
“AI-ready content.”
“AI visibility.”
“AI search optimization.”
Kedengerannya futuristik. Slide-nya kinclong. Copywriting-nya rapi. Tapi begitu dikupas pelan-pelan, mindset di belakangnya masih sama: SEO lama. Keyword. Ranking. Traffic. CTR. Grafik naik ke kanan. Selesai.
Dan di situ gue mulai mikir: ini orang beneran adaptasi, atau cuma rename jasa lama biar tetap relevan?
Awalnya Gue Kira Ini Cuma Fase Transisi
Di awal kemunculan AI answer systems, gue masih maklum. Semua orang lagi belajar. Banyak yang genuinely bingung. Banyak juga yang excited kebablasan. Fair. Teknologi baru emang selalu chaotic di fase awal.
Tapi sekarang?
Udah bukan 2023. Udah bukan “kita lihat nanti”. AI udah jadi sistem jawaban, bukan sekadar mesin pencari yang dikasih topping chatbot.
Dan di titik ini, kalau masih jualan optimasi AI dengan cara:
– ngejar keyword
– rewrite artikel SEO lama
– push blog post massal
– optimasi meta kayak biasa
…itu bukan adaptasi. Itu denial yang dikasih makeup.
Masalahnya, denial ini dijual ke klien dengan penuh keyakinan. Bahkan kadang terlalu pede. Dan itu yang bikin capek.
Banyak Agency Salah Baca Masalah dari Awal
Gue perhatiin satu pola yang konsisten:
banyak agency ngira AI itu lapisan baru di atas SEO.
Padahal realitanya, AI itu sistem interpretasi, bukan sistem ranking tradisional.
AI nggak nanya:
“Siapa ranking 1?”
AI nanya:
“Siapa yang paling make sense buat dijadiin jawaban?”
Dan dua pertanyaan itu beda dunia.
Ranking itu soal posisi.
Jawaban itu soal kepercayaan, konteks, konsistensi, dan struktur makna.
Lo bisa ranking tinggi tapi tetap invisible di jawaban AI.
Lo juga bisa jarang muncul di SERP tapi jadi rujukan stabil di AI.
Ini bukan teori. Ini kejadian di lapangan. Berkali-kali.
Tapi banyak agency masih ngejar KPI lama, lalu bingung kenapa “optimasi AI”-nya nggak kelihatan hasilnya.
Slide Presentasi Mereka Selalu Terlihat Pintar
Gue harus akui satu hal:
agency-agency ini jago bikin deck.
Diagram panah. Funnel baru. Istilah Inggris berlapis-lapis. Semua terlihat kredibel. Visioner. Seolah mereka udah jauh di depan.
Tapi begitu lo tanya lebih dalam:
“AI ini ngambil sinyal dari mana?”
“Bagaimana AI ngebedain brand A dan B?”
“Kalau dua entitas ngomong hal sama, siapa yang dipilih?”
Jawabannya mulai ngambang.
Balik lagi ke traffic. Balik lagi ke konten. Balik lagi ke “nanti juga kebaca”.
Dan di situ kelihatan:
mindset-nya belum pindah.
SEO Lama Itu Nggak Jahat. Tapi Bukan Itu Masalahnya.
Biar clear: ini bukan tulisan anti-SEO. SEO lama punya jasa besar. Tanpa SEO, banyak bisnis nggak pernah naik kelas.
Masalahnya bukan SEO-nya.
Masalahnya adalah memaksa logika lama ke sistem baru.
Itu kayak maksa CD dimasukin ke port USB.
Atau maksa mesin diesel jalan pakai bensin.
Bisa?
Nggak.
AI nggak membaca konten lo sebagai “artikel”.
AI membaca lo sebagai entitas.
Dan entitas itu bukan sekadar halaman web.
Entitas itu gabungan dari: narasi, konsistensi, konteks, sejarah, relasi, dan sinyal lintas platform.
Kalau lo masih mikir satu artikel = satu keyword = satu ranking, ya wajar kalau AI nggak nganggep lo.
Di Lapangan, Yang Terjadi Lebih Brutal
Gue sering lihat brand yang ngerasa “udah optimal”.
Kontennya banyak. Update rutin. Struktur rapi. Bahkan ditulis pakai AI juga.
Tapi pas dicek di AI answer?
Nggak ada.
Atau ada, tapi cuma lewat… kompetitor.
Dan itu nyakitin ego. Banget.
Biasanya reaksi pertama bukan evaluasi sistem, tapi defensif:
– “AI-nya belum matang”
– “Pasar Indonesia belum siap”
– “Nanti juga kebaca”
Padahal kenyataannya lebih simpel dan lebih kejam:
AI nggak nemu alasan kuat buat percaya.
“Optimasi AI” Bukan Tentang Nambah Konten
Ini bagian yang paling sering disalahpahami.
Banyak agency ngira solusi AI = produksi konten lebih banyak.
Padahal sering kali yang dibutuhin justru sebaliknya: berhenti nambah noise.
AI itu sensitif sama inkonsistensi.
Terlalu banyak versi cerita bikin sinyal makin blur.
Lo punya:
– 10 artikel mirip
– 5 landing page dengan klaim beda
– 3 narasi positioning yang nggak sinkron
Manusia mungkin masih bisa maklum.
AI? Dia cuma lihat kebingungan.
Dan di titik itu, AI akan ambil opsi aman: brand lain yang ceritanya lebih solid.

baca juga
- Gue Capek Liat Agency Jualan “Optimasi AI” Tapi Masih Pikirannya SEO
- AI Nggak Salah. Brand Lo Aja Nggak Kebaca.
- Bisnis Berantakan Gara-Gara AI Hallucination?
- 2025 Reshuffles the Internet
- Perang Model AI , OpenAI vs Google vs Meta
Gue Capek Karena Polanya Itu-Itu Lagi
Capek lihat:
– agency rebranding jasa lama
– klien dibikin yakin pakai istilah keren
– ekspektasi dibangun dari metrik lama
– lalu disalahkan ke “algoritma”
Capek karena diskusinya jarang naik level.
Capek karena terlalu sedikit yang mau ngaku: “kita belum ngerti sepenuhnya.”
Padahal justru di situ pintu belajar kebuka.
AI Itu Sistem Ingatan, Bukan Sekadar Mesin Jawaban
Ini poin yang sering kelewat.
AI bukan cuma menjawab pertanyaan hari ini.
AI membangun memori.
Siapa yang konsisten.
Siapa yang sering dirujuk.
Siapa yang muncul lintas konteks tanpa kontradiksi.
Itu semua disimpan. Diam-diam. Tanpa notifikasi.
Dan agency yang masih fokus ke campaign jangka pendek sering nggak sadar:
mereka lagi ngasih sinyal campur aduk ke sistem yang kerjanya justru jangka panjang.
Kadang Gue Ngerasa Ini Masalah Ego, Bukan Skill
Jujur aja.
Banyak praktisi sebenernya pinter. Teknis kuat. Pengalaman panjang.
Tapi susah buat bilang:
“Framework gue udah nggak cukup.”
Lebih nyaman nambah layer baru di atas fondasi lama, daripada bongkar ulang.
Masalahnya, AI nggak peduli sama kenyamanan kita.
Dia cuma kerja sesuai desainnya.
Gue Nulis Ini Bukan Buat Menang Debat
Ini bukan manifesto. Bukan whitepaper. Bukan juga ajakan perang.
Ini catatan capek dari lapangan.
Observasi personal. Subjektif. Dan iya, agak nyinyir.
Tapi kalau ada satu hal yang pengen gue tekankan:
Optimasi AI itu bukan SEO yang diganti nama.
Kalau mindset-nya nggak pindah, istilah secanggih apa pun cuma kosmetik.
Dan cepat atau lambat, klien akan sadar.
Bukan karena artikel ini.
Tapi karena hasil di dunia nyata nggak bisa dibohongi.
Di titik itu, industri bakal ke-reset dengan caranya sendiri.
Selalu begitu.

